Jumat, 05 Desember 2008

Konseling Traumatis Untuk Tenaga Fungsional PTK-PNF

Selama lima hari (27 Nov- 1 Des2008) Asosiasi Widyaiswara Indonesia (ASWINDO) sebagai Training Provider telah melaksanakan pembekalan konseling trauma untuk tenaga fungsional di lingkungan PTK-PNF. Kegiatan ini diikuti 48 peserta dari 6 provinsi. Pemberi materi antara lain, Dr. Nandang Rusmana M.Pd. Dra.Nina Salmita, Drs.Naharus Surur M.Pd, Drs.A.Zainudin M.Pd,Kons. Drs. Akur Sudianto,Kons.dan Prof. Dr.Prajitno M.Sc, Ed.

Senin, 24 November 2008

Pemenang Terbaik CitiSucces 2004

Jumat, 13 Februari 2004
Akur Sudianto
Tak Mau Jual Ilmu kepada Siswa

Penulis : bur


Suatu siang, di sebuah kantin di bilangan Senen, seorang lelaki berpakaian rapi
datang bergegas. Berbeda dengan pengunjung lain, pria berdasi itu tidak segera
mencari tempat kosong. Dia langsung mengambil piring berisi makanan dan
mengantarnya kepada pemesan yang sudah duduk menunggu. Banyak pengunjung kantin
yang padat itu melongo, tapi tetap saja melayani. Sebelum seorang angkat bicara,
dia buru-buru menjelaskan, ''Ini usaha saya.''

Pria berpakaian rapi itu adalah Akur Sudianto. Usaha warung makan memang bukan
pekerjaan utamanya. Dia seorang guru, mengajar di SMA Negeri 84 Jakarta. Siang
itu Akur baru kembali menerima hadiah atas keberhasilannya menerapkan Student
Digital Photography kepada 30 siswanya. Dia dinilai berhasil, tidak hanya
mengenalkan kamera digital secara garis besar melalui teori dan praktik, tapi
juga memberikan life skill kepada anak didiknya.

Akur mengumpulkan siswa kelas 1, 2, dan 3 yang tertarik mempelajari seluk beluk
berkaitan dengan kamera digital. Ditemukan 30 siswa yang punya minat sama. Guru
Bimbingan dan Penyuluhan (BP) ini kemudian mengajarkan teori, dilanjutkan dengan
praktik membuat foto digital. ''Hanya empat hari dilatih, mereka sudah bisa,''
tuturnya. ''Mereka tak hanya bisa memotret, tapi juga mengolah dan mencetak foto
digital, konsep disain, dan printing.''

Pengetahuan yang dia tularkan kepada anak didiknya itu bermula dari
kesenangannya mengutak-atik komputer, awal 1980-an. Kegemaran tersebut
mengilhaminya untuk memberikan pendidikan komputer kepada siswa. Tapi niat
membagi ilmu kala itu tidak berjalan mulus. Hambatan datang dari pimpinannya.
''Kamu tidak cocok,'' katanya, menirukan ucapan kepala sekolah tempatnya
mengajar.

Tidak sampai di sini rintangan yang ditemuinya. Pada kali yang lain, dia kembali
berhasrat memberikan kursus komputer kepada siswa. Seperti sebelumnya, kali ini
pun dia tidak memperoleh sambutan yang melegakan. Bahkan dia mengaku sampai
menerima cacian dari seorang pejabat karena menganggap pendidikan komputer tidak
cocok bagi anak-anak di daerah itu.

Tapi Akur terus berjalan mengikuti irama kegemarannya. Dua anaknya sejak kecil
diperkenalkan komputer. Hingga pada sebuah kesempatan dia memperoleh informasi
ada lomba digital. Berbekal komputer Pentium I yang dipunyai, Akur mengajak
anaknya membuat program digital untuk diikutkan dalam lomba. Hasilnya,
''Ternyata juara dua,'' tuturnya.

Merasa laik dijadikan usaha, dia kemudian melengkapi peralatan dan membuka foto
studio digital di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Usaha itu
dilakoni, mengisi waktu senggang setelah menyelesaikan tugas utamanya di SMA 84,
Jakarta.

Dalam perjalanan waktu, diluncurkan program CitiSuccess Fund yang menyediakan
dana 500 dolar AS bagi guru untuk kegiatan pembelajaran. Akur mengajukan
proposal. Program Student Digital Photography yang dia ajukan termasuk dari 33
proposal yang dinilai layak memperoleh dana kegiatan. Dana itulah yang digunakan
membeli peralatan untuk diajarkan kepada siswa.

Setelah melalui proses seleksi, kegiatan yang diselenggarakan Akur di SMA Negeri
84 termasuk dalam kategori lima terbaik. Atas keberhasilan itu, dia memperoleh
hadiah 500 dolar AS. Sekolah tempatnya mengajar mendapatkan dua kali lebih
besar, 1000 dolar AS.

Akur, memang, tidak mendapatkan kemampuan yang dimilikinya dalam sekejap mata.
Keberhasilan yang diraihnya, dicapai setelah melampaui jalan yang
'bergelombang'. Dia sempat menganggur enam tahun setelah setamat SMA di Jakarta,
1973. Saat itu dia harus mengikuti orang tuanya bertransmigrasi ke Lampung.
''Saya baru masuk kuliah pada 1979,'' ujarnya.

Masuk di IKIP Jakarta - sekarang Universitas Negeri Jakarta - Akur memilih
Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. ''Saya terlalu banyak dibimbing orang sehingga
memilih Bimbingan dan Penyuluhan,'' alasannya. Tahun 1983, ketika masa
perkuliahannya belum selesai, dia sudah menjadi pengajar di SMA 73 Jakarta
Utara. Di sekolah itu Akur sempat dipercayai menjadi wakil kepala sekolah, meski
masih berstatus honorer.

Agustus 2000 dia baru dipindahkan ke SMA 84, tak jauh dari tempat tinggalnya di
bilangan Jakarta Barat. Di sekolah itulah ayah dua ini memperoleh kesempatan
mengaplikasikan pengetahuannya kepada anak didik. Dia pun telah menulis berbagai
buku pelajaran komputer dan buku ekonomi koperasi, pelajaran yang amat
digemarinya ketika masih duduk di SMA.

Senang, tentu saja. Tapi di balik kesenangan itu, Akur merasa gagal
menyelesaikan pendidikannya program S2 di UNJ yang dimasukinya pada 1998. ''Saya
DO (drop out) karena tidak punya uang,'' kata lelaki kelahiran Pati, Jawa
Tengah, 3 Januari 1955 yang sejak bulan lalu ditarik ke Departemen Pendidikan
Nasional menjadi salah seorang widyaswara ini.

Apakah karena gaji guru rendah sehingga ia terpaksa harus membuka warung makan?
Akur menggeleng. Dia mengatakan itu bukan alasan utama. ''Bukan karena gaji,
tapi hobi,'' ujarnya. Dia mengaku senang memasak. Di kantin itu dia
mempekerjakan tujuh orang tenaga kerja. ''Saya tidak pernah menjual ilmu saya
kepada anak didik,'' Akur mengungkapkan pendiriannya

Pelayanan Konseling di Sekolah

Untuk memahami Pelayanan Konseling di Sekolah sebaiknya dibaca lagi Permendiknas No. 22 Tahun 2006, Model Kurikulum Pengembangan Diri yang dibuat oleh Balitbang Puskur dan Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh PPPPTK Penjas dan BK

Pelayanan Konseling Dengan Metode AKUR

ABSTRAK

Kepuasan konseli dalam proses konseling dengan Guru Pembimbing/Konselor Sekolah/Madrasah dalam pelaksanaan pelayanan konseling di satuan pendidikan sangat mutlak harus dipenuhi. Berbagai pendekatan pelayanan konseling harus dapat dilaksanakan untuk membantu mengembalikan Kehidupan Efektif Sehari-hari siswa. Dengan memperhatikan data yang terkumpul berdasarkan hasil pre tes, pos tes dan kemampuan dalam melaksanakan pelayanan konseling ( praktik pelayanan konseling )dapat diketahui bahwa kemampuan pelayanan konseling yang dikuasai Guru Pembimbing/Konselor Sekolah/Madrasah yang pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan di PPPPTK Penjas dan BK. Penterapan layanan konseling melalui kegiatan perorangan ( Konseling Perorangan) Guru Pembimbing/Konselor Sekolah/Madrasah dapat mengimplementasikan berbagai pendekatan dalam suatu layanan konseling eklektif, sebab tidak ada satupun teori pendekatan yang mampu menuntaskan suatu permasalahan. Guru Pembimbing/Konselor Sekolah/Madrasah sebagai tenaga profesional haruslah selalu meningkatkan profesionalitasnya dengan lebih banyak melakukan praktik konseling. Proses pelayanan konseling harus mampu membawa kepada suatu suasana yang AKUR: Acceptance, yakni konseli memahami dan bisa menerima terhadap masalah yang dihadapinya, Knowall yakni konseli sadar bahwa konselor memiliki wawasan yang luas dalam membantu pemecahan permasalahan, Unity yakni bersama-sama dengan konselor untuk membahas masalah yang dihadapi , Rise up mampu untuk bangkit kembali dalam menghadapi Kehidupan Efektif Sehari-hari melalui rencana kegiatan oleh konseli. Penelitian ini memperlihatkan ada kemajuan yang signifikan antara teori dan praktik pelayanan konseling dalam program pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di PPPPTK Penjas dan BK pada tahun 2008.